ITB dan Waseda University adakan Webinar bertema; Co creation untuk Membangun “New Society”

SCCIC, (25/3) – LPIK ITB bekerja sama dengan Waseda University Jepang menyelenggarakan seminar on line atau Webinar pada tanggal 26 Maret 2018. Tema yang diambil adalah bergotong royong atau Co Creation membangun Masyarakat Baru.

Webinar ini dilakukan untuk memperingati 100 tahun Pendidikan Tinggi Teknik yang jatuh pada tahun 2020 dan juga 60 tahun Persahabatan Indonesia Jepang tahun 2018.

Kedua negara mempunyai tantangan masing masing untuk bisa tumbuh berkembang. Komposisi penduduk Jepang akan lebih banyak yang tua (elderly people), sementara Indonesia sedang diberi kesempatan dengan bonus demografi.

Tantangan lain adalah berkembangnya teknologi baru yang telah dan akan “mendirupsi” tatanan masyarakat yang ada.

Munculnya IoT, Big Data dan Artificial Intelligent akan menambah tantangan membangun kedua negara.

Lapangan pekerjaan , hubungan manusia dengan mesin, mesin dan mesin akan saling kait mengkait yang mungkin mengubah tatanan baru hubungan kedua belah pihak.

Persahabatan Jepang dan Indonesia yang sudah genap 60 tahun tentu perlu ditingkatkan sesuai dengan tantangan yang ada.

Kerjasama yang memberi keuntungan kedua belah pihak perlu terus dikaji.

Webinar dengan tajuk “Co creation” untuk membangun masyarakat baru ini diupayakan untuk tujuan diatas.

Menjadi Nara Sumber dalam Webinar ini diantaranya Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia, Bambang Brojonegoro, Wakil Menteri Dalam Negeri dan Komunikas Jepang , Anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional Indonesia Hendri Saparini, Prof Toshio Obi Waseda University, Prof. Suhono H. Supangkat ITB dan juga Direktur MRT Jakarta, Dr. Agung Wicaksono

Apa itu Big Data?

 

Saat ini kita sering mendengar istilah Big Data. Presiden Jokowi pun menyinggung istilah big data sebagai salah satu basis revolusi industri 4.0 saat menghadiri pertemuan tahunan industri jasa keuangan.

“Big data” pada prinsipnya sama seperti data yang dikumpulkan dan disimpan, lalu dianalisis.  Perkembangan teknologi yang mendorong pergerakan data menuju big data. Saat ini data dalam berbagai bentuk dihasilkan setiap saat, disimpan, dan dibagi, contohnya: data gambar melalui foto, data video, dan data teks. Perkembangan big data pun didukung oleh perkembangan perangkat lunak untuk  menganalisis data serta perangkat keras untuk menyimpan dan memproses data.

Big data secara sederhana merupakan data yang memerlukan kapasitas pemprosesan melebihi pemprosesan pada sistem basis data konvensional. Secara umum, data yang masuk dalam kategori big data adalah data dengan volume melebihi satu tera-byte. Karakteristik yang dimiliki big data antara lain: volume (ukuran), velocity (kecepatan), variety (ragam), dan veracity (ketidakpastian data).

Prinsip kerja big data yaitu semakin kita mengetahui banyak hal atau memahami berbagai situasi, maka kita akan semakin andal memperoleh wawasan baru dan memprediksi kejadian di masa depan. Hal-hal dan situasi tersebut diperoleh dari data-data yang tersebar dan tidak beraturan. Sehingga, pengetahuan seperti pola-pola tertentu dengan lebih cepat dan andal.  Mekanismenya dengan menstrukturkan data terlebih dahulu. Karakteristik data yang tergolong big data mengakibatkan pemrosesan akan sulit dilakukan oleh manusia. Dengan demikian, teknologi-teknologi machine learning dan artificial intelligence digunakan untuk melakukan proses tersebut.

Pemanfaatan big data saat berdasarkan tujuannya apat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu: untuk kepentingan bisnis dan diluar bisnis. Bagi kepentingan bisnis, big data digunakan untuk memprediksi perilaku konsumen serta mengelola operasional perusahaan menjadi lebih efisien. Sedangkan, bagi kepentingan diluar bisnis, big data digunakan untuk meningkatkan layanan kesehatan, memprediksi dan merespon kejadian-kejadian yang disebabkan oleh alam maupun manusia, serta untuk mencegah terjadinya tindakan-tindakan kriminal.

Big data memiliki sejumlah penerapan positif. Akan tetapi, faktor-faktor  negatif dari pemanfaatan big data pun bermunculan sehingga menjadi hal yang perlu diperhatikan saat penggunaannya. Sejumlah faktor yang menjadi perhatian dalam penerapan big data, antara lain: privasi data, keamanan data, dan diskriminasi data. Sehingga, saat penerapan big data berbagai dampak tersebut perlu dipertimbangkan.

SCCIC ITB Bahas Hasil RKCI 2017 Kota Bontang

 

SCCIC.ID – (09/03) Living Lab Smart City and Community Innovation Center ITB kembali lakukan penjelasan hasil Rating Kota Cerdas Indonesia 2017 (RKCI 2017), Kepada Diskominfotik Kota Bontang, di Living Lab Smart City SCCIC ITB pada Selasa (08/03).

Pembahasan yang berlangsung dua jam itu membahas tentang Garuda Smart City Framework, Hasil Rating Kota Cerdas 2017 Kota Bontang, dan berbagai Inovasi smart city SCCIC oleh Peneliti smart city Ryan Adithya Nugraha dan Tim Livinglab SCCIC.

Hadir dalam pembahasan tersebut yakni, Kepala Kepala Seksi Aplikasi dan Teknologi Informasi Diskominfotik Kota Bontang Wahyu Hermawan, S.Si, MT, Kabid Pengembangan TIK, Taufiqurrakhman, SH, M.Si, selain itu ada perwakilan dari Bapelitbang, dan Badan Pengelolaan Keuangan Daerah dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Bontang.

Menurut Peneliti smart city Ryan Adithya Nugraha pembahasan Rating Kota Cerdas tersebut sangat penting untuk melihat potensi kota ke depan agar kota bisa lebih baik.

“Sebagai bahan evaluasi, Bontang tahu kelemahan dan kelebihannya di mana, yang masih kurang bisa diperbaiki dan yang sudah bagusnya lebih ditingkatkan lagi”. Kata Ryan dalam presentasinya.